Pandemi penyakit menular seperti COVID-19 bukan hanya krisis kesehatan, melainkan juga guncangan dahsyat bagi perekonomian. “Kerugian Ekonomi Nasional” akibat wabah ini sangatlah besar, mencakup berbagai sektor mulai dari produktivitas hingga pariwisata. Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), sebuah provinsi yang sangat bergantung pada sektor pariwisata dan UMKM, estimasi biaya pandemi penyakit tular memberikan gambaran jelas tentang tekanan finansial yang harus dihadapi.
Yogyakarta, yang dikenal sebagai kota budaya dan pariwisata, mengalami pukulan telak saat pandemi COVID-19 melanda. Pembatasan sosial dan physical distancing secara drastis mengurangi kunjungan wisatawan, yang merupakan tulang punggung ekonomi Jogja. Banyak hotel, restoran, toko souvenir, hingga usaha transportasi mengalami penurunan omzet yang signifikan, bahkan ada yang terpaksa gulung tikar. Penelitian menunjukkan bahwa sektor pariwisata di DIY mengalami kontraksi tajam, dengan kerugian potensi melebihi puluhan miliar rupiah per tahunnya.
Estimasi biaya pandemi tidak hanya terbatas pada sektor pariwisata. Beban langsung pada sistem kesehatan juga sangat besar. Pemerintah DIY mengalokasikan anggaran yang signifikan untuk penanganan COVID-19, termasuk untuk pembelian alat pelindung diri (APD), obat-obatan, biaya perawatan pasien, hingga insentif bagi tenaga kesehatan. Pada awal pandemi, pemerintah DIY menggeser anggaran hingga ratusan miliar rupiah dari pos belanja lain untuk penanganan darurat ini. Biaya ini merupakan pengeluaran yang tidak terduga dan mengurangi alokasi untuk program pembangunan lainnya.
Selain itu, pandemi juga menyebabkan penurunan produktivitas kerja. Banyak pekerja yang sakit atau harus menjalani isolasi mandiri, sehingga tidak bisa bekerja. Peraturan bekerja dari rumah (work from home) juga memiliki dampak pada efisiensi dan kolaborasi. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), yang merupakan motor penggerak ekonomi Jogja, mengalami penurunan pendapatan drastis. Sebuah studi menunjukkan penurunan omzet usaha mikro di sektor perdagangan di DIY mencapai puluhan persen. Angka pengangguran pun cenderung meningkat.
Dampak tidak langsung juga terasa, seperti penurunan daya beli masyarakat dan penghambatan investasi. Masyarakat cenderung menahan pengeluaran karena ketidakpastian ekonomi, dan investor menunda ekspansi bisnis. Hal ini memperlambat perputaran uang di pasar dan menghambat pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
