Yogyakarta tidak hanya dikenal sebagai kota pelajar dan budaya, tetapi juga sebagai magnet bagi para pemburu konten supranatural melalui tren Wisata Horor Jogja. Namun, di balik popularitas lokasi-lokasi yang dianggap angker seperti rumah tua, bangunan peninggalan kolonial, hingga area pantai selatan, tersimpan realitas yang memprihatinkan mengenai eksploitasi mitos demi keuntungan finansial semata. Fenomena ini telah bergeser dari sekadar rasa penasaran menjadi industri komersial yang masif, di mana batasan antara penghormatan terhadap tradisi dan komodifikasi rasa takut menjadi semakin kabur di mata masyarakat modern dan para konten kreator.
Munculnya Wisata Horor Jogja ini sering kali dipicu oleh narasi yang sengaja dibesar-besarkan oleh para pemandu wisata ilegal atau pengelola konten digital demi mendapatkan jumlah penonton yang tinggi. Mitos-mitos yang sebenarnya memiliki nilai filosofis atau sejarah yang mendalam sering kali dipelintir menjadi cerita seram yang sensasional hanya untuk menarik minat wisatawan. Hal ini berakibat pada hilangnya nilai edukasi dari sebuah situs bersejarah, yang kemudian justru berubah menjadi arena vandalisme atau tempat melakukan aktivitas tidak pantas atas nama “uji nyali”. Eksploitasi ini tidak hanya merusak citra Yogyakarta sebagai kota yang santun, tetapi juga menyinggung perasaan warga lokal yang masih menjunjung tinggi kesakralan tempat-tempat tersebut.
Dampak dari masifnya tren Wisata Horor Jogja ini juga sangat terasa pada rusaknya fisik cagar budaya. Banyak bangunan bersejarah yang seharusnya dilindungi kini kondisinya semakin mengenaskan karena sering dimasuki secara ilegal saat malam hari oleh kelompok-kelompok pencari konten. Pihak berwenang sering kali kewalahan menghadapi kerumunan yang datang tanpa izin ke lokasi-lokasi yang sebenarnya berbahaya secara struktural. Ironisnya, keuntungan dari tiket masuk ilegal atau pemasukan iklan digital dari konten-konten tersebut jarang sekali mengalir untuk biaya konservasi bangunan, sehingga bangunan tersebut hanya diperas nilai komersialnya hingga akhirnya hancur dan dilupakan.
Selain masalah fisik, sisi kelam dari Wisata Horor Jogja juga menyentuh aspek etika dan psikologi sosial. Menciptakan ketakutan kolektif melalui mitos yang tidak berdasar dapat menghambat rasionalitas masyarakat dan menciptakan stigma buruk terhadap lokasi-lokasi tertentu yang sebenarnya memiliki potensi ekonomi lain. Masyarakat dihimbau untuk lebih kritis dalam memilah konten hiburan dan tidak mudah terjebak dalam narasi horor yang hanya bertujuan untuk mencari cuan tanpa memedulikan keakuratan sejarah.
