Di pedalaman Banten, Suku Baduy telah mempraktikkan gaya hidup berkelanjutan yang kini kita kenal sebagai konsep Zero Waste Baduy selama berabad-abad. Jauh sebelum gerakan ramah lingkungan menjadi tren di kota-kota besar, masyarakat adat ini telah menetapkan aturan ketat untuk tidak membawa atau menggunakan bahan-bahan yang tidak dapat diurai oleh alam ke dalam wilayah mereka. Kesadaran untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan manusia dan kelestarian hutan menjadi pondasi utama mengapa wilayah Baduy tetap asri dan bebas dari tumpukan sampah plastik yang mencemari lingkungan.
Sistem dalam Zero Waste Baduy sangat sederhana namun sangat efektif; segala sesuatu yang diambil dari alam harus dikembalikan lagi ke alam. Sampah harian yang dihasilkan oleh masyarakat, seperti sisa makanan atau bahan bangunan dari bambu dan kayu, langsung dikelola menjadi kompos alami di lahan-lahan pertanian mereka. Mereka tidak mengenal bahan kimia sintetis dalam bertani, sehingga seluruh limbah organik tersebut benar-benar menjadi nutrisi bagi tanah. Prinsip ini menjaga kualitas air sungai yang mengalir dari pegunungan Kendeng tetap jernih dan aman dikonsumsi oleh warga tanpa perlu proses pemurnian kimia.
Selain pengelolaan sampah, Zero Waste Baduy juga tercermin dalam pola konsumsi mereka yang minimalis. Mereka hanya mengambil apa yang dibutuhkan dan menggunakan peralatan dari material terbarukan seperti batok kelapa, anyaman bambu, dan daun pisang sebagai pengganti wadah plastik. Aturan adat yang melarang penggunaan sabun atau deterjen kimia di sungai menjadi bukti komitmen mereka dalam mencegah pencemaran air. Bagi mereka, alam adalah titipan yang harus dijaga kesuciannya, dan merusak alam dengan sampah berarti merusak keberlangsungan hidup anak cucu di masa depan.
Pada tahun 2026, praktik Zero Waste Baduy menjadi model studi bagi para aktivis lingkungan urban untuk mencari solusi atas krisis sampah di perkotaan. Kedisiplinan masyarakat adat dalam mematuhi larangan adat terkait pelestarian lingkungan menunjukkan bahwa kunci utama dari masalah sampah adalah perubahan perilaku dan gaya hidup. Wisatawan yang berkunjung ke wilayah Baduy pun kini diwajibkan untuk membawa kembali sampah anorganik yang mereka bawa ke luar kawasan, sebagai bentuk penghormatan terhadap prinsip suci yang dijaga oleh warga setempat agar hutan mereka tetap bersih.
